Rabu, 21 November 2018

Happy Mom Happy Kiddos


Balada working mom setiap pagi sering kali dimulai dengan drama tangisan mellow mellow dari abang atau kakak. Ketika waktu sudah beranjak semakin siang, si abang masih dancing ultraman, si kakak masih slow motion tak mau beranjak dari kasur, dan si adek ikutan menyuarakan isi hatinya terdalam untuk maunya digendong selagi emak riweh dengan urusan ini dan itu.

Tidak ada yang mudah memang. Menjaga kewarasan ketika bersama dnegan anak. Apalagi kalau suasana sudah cranky… si emak jauh lebih cranky. Wis, kalo dah cranky, si emak keluar tanduk… weleh weleh. Si Joko lewat juga gak peduli. Suara Emak bakal ngalahin suara Tarzan manggil penghuni hutan.

Kalau diinget sih ya, memang waktunya sama anak cuman dikit. Dari pagi sampai sore dah di kantor. Tinggal waktu sore sampai malam sedikit dan mereka tidur abis itu dah pagi lagi. Kalau sudah keluar cranky nya emak, pasti udahannya ngerasa bersalah pake buangeeeet. Jadilah pas mereka tidur wajah nya dipandangin terus, diusap-usap, si emak terisak bisikin minta maaf. Atau pas lagi di mobil, si emak ngucapin maaf berkali-kali sama si anak. Si anak ngangguk, berpelukan, sayang-sayang manja-manja terus suasana jadi asyik lagi. Kalau weekend itu janjinya gak bakal cranky lagi… tapi kenyataannya kadang tak semanis janji di hati. Janjinya bakal the best quality time bersama kiddos every weekend..

Apalagi bila lihat mainan dari dpean sampai belakang, rumah sudah kayak kapal pecah. Diberesin sebentar, 2 detik kemudian wis bablaaas…
Si emak kadang sudah kadung lelah jiwa… jadilah permasalahan sedikit. Lagi buru-buru jalan eh keinjek lego. Dah marah-marah lagi sama si abang karena berantakin mainan dan gak tertib beresin. Mau bedakan, lipstick ma bedak dah berambur-amburan. Padahal juga salah sendiri si emak gak mau tertib naro tas kosmetik nya di tempat yang gak terjangkau sama anak.

Rempong di pagi hari, baju2 sudah disiapin dari malam, pumping asi sudah, siapin bekal sarapan, tas dan lain2. Suasana kembali pecah ketika si kakak memekik.
Seroang teman pernah menulis, bahwa surganya rumah terletak pada Ibu yang Bahagia. Happy Mom Happy Kiddos.. begitulah slogannya. Ya, betul memang, suasana rumah akan seketika berubah ketika si emak runsing. Rumah juga akan kelihatan berbinar bila si emak punya wajah ceria.

Teman ini berkata, letaknya memang pada hati yang lapang. Toh, emak yang stay at home terkadang juga menghadapi situasi stress yang juga tak kalah dahsyatnya.  Depresi bisa hadir disela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga, dan anak-anak. Belum lagi, ketika pasangan terkadang lamban mengerti bahwa si emak butuh waktu untuk diri sendiri. Ada yang merasa hidupnya semakin tidak berarti, ketika yang dihadapi setiap hari adalah tumpukan cucian kotor, setrikaan, mainan ambur-amburan, dll. Depresi bisa hadir, ketika pasangan juga tidak berusaha menjadi teman bicara berarti.

 Si emak terkadang takut dicap sebagai ibu yang tidak bersyukur, sehingga mengendapkan depresinya jauh jauh kedalam hati. Ia ada di rumah, tapi hatinya tidak. Kelelahan inilah yang menyebabkan factor terjadinya baby blues dan depresi lainnya terkait dengan peran ibu. Ibu kerap kali abai dengan perasaan dirinya, padahal perasaannya moodnya sangat penting dalam tumbuh kembang anak-anaknya.  Banyak yang menuding, si emak kurang iman.  Yah, paling gampang memang menuding..


Emak yang bekerja juga mesti dituding sebagai emak yang abai pada perkembangan anak-anaknya. Pendapat yang mengatakan bahwa si emak tidak bertanggung jawab, mengejar kepentingan dirinya dalam mengejar karir daripada mendidik anaknya. Padahal mereka emak yang bekerja itu, mesti berperang berkompromi dengan perasaan bersalah ketika menitipkan buah hatinya pada orang yang mereka percayai. Mereka bangun di pagi hari, memastikan semua kebutuhan anak-anak terpenuhi, mengecek setiap waktu dan memastikan agar setiap anak dalam doanya di setiap detiknya.

Tidak ada yang mudah memang menjadi emak. Emak stay at home maupun Emak bekerja, maupun Emak yang kerjanya freelance, di rumah punya usaha,  maupun Emak yang long distance, Emak weekend.. Mereka adalah Emak-emak yang bagaimanapun kondisinya tak layak bagi kita untuk dijudge sebagai emak yang tak peduli, tak layak jadi ibu, tak ini tak itulah. Lantas standar seperti apakah emak yang sempurna??
Kita sendiri  terkadang bahkan memiliki episode yang berat dalam hubungan antara anak dengan ibu. Sekeras apapun ibu kita, ialah yang membentuk karakter kita sampai saat ini. Bagaimanapun kita mencintainya sampai ke tulang.. sampai ke seluruh sel dalam tubuh ini. 
Bila emak-emak ini sendiri yang tak mengapresiasi diri sendiri, lantas siapa lagi?
Bila pasangan tak juga mengerti, maka diri kita yang mesti memahami diri kita.

Sampai nanti waktunya anak-anak tak lagi membutuhkan kita untuk sekedar memakaikan celana, atau menepuk pantatnya dengan lembut. Dan saat itu tiba, kita pasti akan merindukan masa-masa yang telah terlewat dan menyayangkan mengapa saat itu tak banyak menyelipkan kesabaran dalam relung-relung hati, agar anak-anak juga tumbuh menjadi anak yang penyabar dan pemaaf. Bila saat itu tiba, bahkan waktu sudah teramat senggangnya sampai kita lagi yang akan menganggu mereka agar mereka meluangkan perhatian kepada kita. Dan bila saat itu tiba, bahkan berpuluh puluh film drakor tak menarik lagi yang penting sudah dengar suara si anak yang jauh disana menyepatkan untuk menyapa.

So, Menjaga kewarasan sama pentingnya dengan menjaga komunikasi antar pasangan.
Happy Mom, Happy Kiddos. Bismilllahirrahmanirrahim..

Nina Kreasih