Balada
working mom setiap pagi sering kali dimulai dengan drama tangisan mellow mellow
dari abang atau kakak. Ketika waktu sudah beranjak semakin siang, si abang
masih dancing ultraman, si kakak masih slow motion tak mau beranjak dari kasur,
dan si adek ikutan menyuarakan isi hatinya terdalam untuk maunya digendong
selagi emak riweh dengan urusan ini dan itu.
Tidak
ada yang mudah memang. Menjaga kewarasan ketika bersama dnegan anak. Apalagi
kalau suasana sudah cranky… si emak jauh lebih cranky. Wis, kalo dah cranky, si
emak keluar tanduk… weleh weleh. Si Joko lewat juga gak peduli. Suara Emak
bakal ngalahin suara Tarzan manggil penghuni hutan.
Kalau
diinget sih ya, memang waktunya sama anak cuman dikit. Dari pagi sampai sore
dah di kantor. Tinggal waktu sore sampai malam sedikit dan mereka tidur abis
itu dah pagi lagi. Kalau sudah keluar cranky nya emak, pasti udahannya ngerasa
bersalah pake buangeeeet. Jadilah pas mereka tidur wajah nya dipandangin terus,
diusap-usap, si emak terisak bisikin minta maaf. Atau pas lagi di mobil, si
emak ngucapin maaf berkali-kali sama si anak. Si anak ngangguk, berpelukan,
sayang-sayang manja-manja terus suasana jadi asyik lagi. Kalau weekend itu
janjinya gak bakal cranky lagi… tapi kenyataannya kadang tak semanis janji di hati.
Janjinya bakal the best quality time bersama kiddos every weekend..
Apalagi
bila lihat mainan dari dpean sampai belakang, rumah sudah kayak kapal pecah.
Diberesin sebentar, 2 detik kemudian wis bablaaas…
Si
emak kadang sudah kadung lelah jiwa… jadilah permasalahan sedikit. Lagi
buru-buru jalan eh keinjek lego. Dah marah-marah lagi sama si abang karena
berantakin mainan dan gak tertib beresin. Mau bedakan, lipstick ma bedak dah
berambur-amburan. Padahal juga salah sendiri si emak gak mau tertib naro tas
kosmetik nya di tempat yang gak terjangkau sama anak.
Rempong
di pagi hari, baju2 sudah disiapin dari malam, pumping asi sudah, siapin bekal
sarapan, tas dan lain2. Suasana kembali pecah ketika si kakak memekik.
Seroang
teman pernah menulis, bahwa surganya rumah terletak pada Ibu yang Bahagia.
Happy Mom Happy Kiddos.. begitulah slogannya. Ya, betul memang, suasana rumah
akan seketika berubah ketika si emak runsing. Rumah juga akan kelihatan
berbinar bila si emak punya wajah ceria.
Teman
ini berkata, letaknya memang pada hati yang lapang. Toh, emak yang stay at home
terkadang juga menghadapi situasi stress yang juga tak kalah dahsyatnya. Depresi bisa hadir disela-sela kesibukannya
mengurus rumah tangga, dan anak-anak. Belum lagi, ketika pasangan terkadang
lamban mengerti bahwa si emak butuh waktu untuk diri sendiri. Ada yang merasa
hidupnya semakin tidak berarti, ketika yang dihadapi setiap hari adalah
tumpukan cucian kotor, setrikaan, mainan ambur-amburan, dll. Depresi bisa
hadir, ketika pasangan juga tidak berusaha menjadi teman bicara berarti.
Si
emak terkadang takut dicap sebagai ibu yang tidak bersyukur, sehingga
mengendapkan depresinya jauh jauh kedalam hati. Ia ada di rumah, tapi hatinya
tidak. Kelelahan inilah yang menyebabkan factor terjadinya baby blues dan
depresi lainnya terkait dengan peran ibu. Ibu kerap kali abai dengan perasaan
dirinya, padahal perasaannya moodnya sangat penting dalam tumbuh kembang
anak-anaknya. Banyak yang menuding, si
emak kurang iman. Yah, paling gampang
memang menuding..
Emak
yang bekerja juga mesti dituding sebagai emak yang abai pada perkembangan
anak-anaknya. Pendapat yang mengatakan bahwa si emak tidak bertanggung jawab,
mengejar kepentingan dirinya dalam mengejar karir daripada mendidik anaknya.
Padahal mereka emak yang bekerja itu, mesti berperang berkompromi dengan
perasaan bersalah ketika menitipkan buah hatinya pada orang yang mereka
percayai. Mereka bangun di pagi hari, memastikan semua kebutuhan anak-anak
terpenuhi, mengecek setiap waktu dan memastikan agar setiap anak dalam doanya
di setiap detiknya.
Tidak
ada yang mudah memang menjadi emak. Emak stay at home maupun Emak bekerja,
maupun Emak yang kerjanya freelance, di rumah punya usaha, maupun Emak yang long distance, Emak weekend..
Mereka adalah Emak-emak yang bagaimanapun kondisinya tak layak bagi kita untuk
dijudge sebagai emak yang tak peduli, tak layak jadi ibu, tak ini tak itulah.
Lantas standar seperti apakah emak yang sempurna??
Kita
sendiri terkadang bahkan memiliki
episode yang berat dalam hubungan antara anak dengan ibu. Sekeras apapun ibu
kita, ialah yang membentuk karakter kita sampai saat ini. Bagaimanapun kita
mencintainya sampai ke tulang.. sampai ke seluruh sel dalam tubuh ini.
Bila
emak-emak ini sendiri yang tak mengapresiasi diri sendiri, lantas siapa lagi?
Bila
pasangan tak juga mengerti, maka diri kita yang mesti memahami diri kita.
Sampai
nanti waktunya anak-anak tak lagi membutuhkan kita untuk sekedar memakaikan
celana, atau menepuk pantatnya dengan lembut. Dan saat itu tiba, kita pasti
akan merindukan masa-masa yang telah terlewat dan menyayangkan mengapa saat itu
tak banyak menyelipkan kesabaran dalam relung-relung hati, agar anak-anak juga
tumbuh menjadi anak yang penyabar dan pemaaf. Bila saat itu tiba, bahkan waktu
sudah teramat senggangnya sampai kita lagi yang akan menganggu mereka agar
mereka meluangkan perhatian kepada kita. Dan bila saat itu tiba, bahkan
berpuluh puluh film drakor tak menarik lagi yang penting sudah dengar suara si
anak yang jauh disana menyepatkan untuk menyapa.
So,
Menjaga kewarasan sama pentingnya dengan menjaga komunikasi antar pasangan.
Happy
Mom, Happy Kiddos. Bismilllahirrahmanirrahim..
Nina Kreasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar